Jumat, 10 Oktober 2008

Knowledge Management Audit

Resensi Buku:

Knowledge Management Audit


Judul Buku : Knowledge Management Audit
Penerbit : Sekolah Tinggi Manajemen PPM
Tahun : 2008
Jumlah Hal. : 99
Penulis : Ningky Munir

Setiap organisasi perlu mengembangkan kemampuan atau keunggulan bersaingnya agar dapat bertahan, bersaing, dan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan baik. Sumber daya yang dibutuhkan untuk keberlangsungannya itu tidak semata-mata dari sumber daya tradisional seperti sumber daya alam, tenaga kerja, dan dana, melainkan juga dari sumber daya tanwujud (intangile resources), yaitu pengetahuan (intellectual capital).
Untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari pengetahuan yang dimiliki dan untuk mengetahui pengetahuan apa yang harus dimiliki, perusahaan harus mengelola pengetahuannya melalui manajemen pengetahuan. Dengan manajemen pengetahuan, secara sadar organisasi mengidentifikasi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan berbagai inovasi.
Audit manajemen pengetahuan adalah kegiatan memeriksa secara sistematis kualitas pengelolaan pengetahuan di suatu organisasi. Melalui audit manajemen pengetahuan dapat diperoleh gambaran tentang:
· Pengetahuan yang dimiliki dan dibutuhkan oleh organisasi/unit kerja;
· Kesiapan organisasi memfasilitasi pembelajaran; dan
· Kualitas proses-proses pengelolaan pengetahuan.
Sejak dipopulerkan pada pertengahan tahun 80-an, manajemen pengetahuan kini semakin sering dibicarakan diantara para akademisi dan praktisi manajemen. Bahkan bila berkunjung ke situs publikasi sekolah bisnis terkemuka di Amerika Serikat, Harvard Business School (Publishing), dan INSEAD (Institut Europeen d’Administration des Affaires atau European Institute for Business) di Eropa, maka sejak tahun 1996 dalam kategori topik telah ditambahkan satu kategori baru: Knowledge Management. Perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia pun melakukan investasi besar-besaran untuk sistem manajemen pengetahuan, bahkan mempekerjakan banyak profesional secara purna waktu di sebuah pusat pengetahuan yang dipimpin oleh seorang knowledge executive dengan nama jabatan Chief Knowledge Officer (CKO), atau Chief Knowledge Architect (CKA).
Buku Knowledge Management Audit yang ditulis oleh Ningky Munir berusaha menjelaskan tentang definisi manajemen pengetahuan, pengetahuan dan kerangka kerja audit manajemen pengetahuan. Dijelaskan oleh Ningky bahwa manajemen pengetahuan adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja prima.
Manajemen pengetahuan sering diartikan sama dengan teknologi informasi, akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Memang benar teknologi informasi dapat sangat mendukung keberhasilan manajemen pengetahuan, namun tanpa teknologi informasi pun manajemen pengetahuan dapat eksis di berbagai organisasi, dan tidak berarti dengan adanya teknologi informasi pasti ada manajemen pengetahuan. Dalam bukunya, Ningky memaparkan juga tentang hubungan antara simbol, data, informasi, dan pengetahuan.
Dijelaskan juga tentang jenis pengetahuan yang dibedakan menjadi pengetahuan explicit (pengetahuan eksplisit) dan pengetahuan tacit (pengetahuan terbatinkan). Pengetahuan eksplisit dapat diekspresikan dengan kata-kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk formula ilmiah, spesifikasi, prosedur, operasi standar, manual-manual, bagan, dan sebagainya. Di lain pihak pengetahuan tacit terletak dalam benak manusia, bersifat sangat personal dan sulit dirumuskan, sehingga membuatnya sulit untuk dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengalaman fisik, petunjuk praktis termasuk dalam jenis pengetahuan ini.
Yang terpenting dalam buku ini adalah tulisan Ningky tentang Kerangka Kerja Audit Manajemen Pengetahuan dan Fokus Strategi Manajemen Pengetahuan. Istilah audit disini tidak ada hubungannya dengan audit keuangan, kata audit dipakai secara luwes dengan masih memanfaatkan prinsip-prinsip audit seperti pemeriksaan, evaluasi, sistematis atau terstruktur, dan obyektif. Audit manajemen pengetahuan didefinisikan sebagai kegiatan memeriksa secara sistematis kualitas pengelolaan pengetahuan di suatu organisasi. Melalui audit manajemen pengetahuan dapat diperoleh gambaran mengenai pengetahuan yang dimiliki dan dibutuhkan oleh organisasi/unit kerja, kesiapan organisasi memfasilitasi pembelajaran, dan kualitas proses-proses pengelolaan pengetahuan. Dalam audit manajemen terdapat tiga komponen penting, yaitu audit kualitas pengetahuan, audit kualitas pembelajaran di organisasi, dan audit kualitas proses pengelolaan pengetahuan.
Melalui audit kualitas pengetahuan, dapat diperoleh gambaran mengenai ragam kelompok pengetahuan yang dibutuhkan beserta tingkatannya, ragam kelompok pengetahuan yang sudah dimiliki beserta tingkatannya, serta ragam pengetahuan yang perlu diakuisisi, tingkatan, dan prioritasnya. Komponen audit manajemen yang kedua adalah audit kualitas pembelajaran di organisasi, audit kualitas pembelajaran di organisasi dapat diperoleh gambaran mengenai kesiapan organisasi dalam memfasilitasi pembelajaran anggotanya dan kesiapan organisasi dalam memanfaatkan hasil pembelajaran anggotanya untuk mengubah dan menyempurnakan organisasi. Sedangkan komponen audit yang ketiga adalah audit kualitas proses pengelolaan pengetahuan, melalui kualitas proses pengelolaan pengetahuan dapat diperoleh gambaran mengenai efektivitas proses-proses pengelolaan pengetahuan di dalam organisasi yang terdiri dari : (1) Proses Akuisisi Pengetahuan, (2) Proses Distribusi dan Berbagi Pengetahuan, (3) Proses Pengembangan dan Pemanfaatan Pengetahuan, dan (4) Proses Penyimpanan dan Pemeliharaan Pengetahuan.
Pada bab penutup yaitu Fokus Strategi Manajemen Pengetahuan, Ningky menulis bahwa setelah organisasi melakukan audit manajemen pengetahuan, akan diperoleh gambaran mengenai kualitas pengetahuan, pembelajaran, dan proses pengelolaan pengetahuan di suatu organisasi atau unit kerja. Berdasarkan hasil audit tersebut, organisasi dapat mengembangkan alternatif strategi untuk meningkatkan atau mempertahankan kualitas pengetahuan, pembelajaran, dan proses pengelolaan pengetahuan.
Strategi Manajemen Pengetahuan yang dapat diambil oleh organisasi adalah strategi Agresif Vs Konservatf, atau Kodifikasi Vs Personalisasi. Organisasi yang berorientasi pada eksploitasi pengetahuan internal menunjukkan strategi manajemen pengetahuan yang konservatif, sedangkan organisasi yang menggali pengetahuan tanpa membatasi sumbernya dengan melakukan baik eksplorasi maupun eksploitasi (innovator) mewakili strategi manajemen pengetahuan yang agresif. Personalisasi (personalization strategy) lebih menekankan pada peran orang atau manusia sebagai sumber pengetahuan sedangkan kodifikasi (codification strategy) lebih menekankan pada pemanfaatan teknologi informasi yang dominan sebagai alat pendukung.
Buku tipis dengan jumlah halaman 99 ini, enak dibaca bagi pemula yang ingin mengetahui tentang Knowledge Management. Point penting dari buku ini bagi manajer suatu organisasi adalah agar manajer organisasi tergugah untuk mengetahui dimana sebenarnya posisi knowledge organisasi yang dipimpinnya dibandingkan dengan organisasi pesaingnya, apakah organisasinya terdepan atau justru tertinggal dalam industri/core businis-nya. Sehingga sang manajer dapat mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk tetap menjadi yang terdepan dalam industri.



(Jumpono)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Mohon bantuannya, saya mahasiswa unikom bandung memerlukan buku tersebut.kira kira dimana ya saya bisa mendapatkannya?terimakasih